Salah Kaprah

Materi bermanfaat untuk di share | Source : http://mukminsehat.multiply.com/journal/item/94?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Kadang-kadang kita karna ummiy dalam bahasa arab, Maka dampak logisnya adalah ikut-ikutan atau denger dari orang dalam kalimat tertentu. Padahal belum tentu itu betul adanya. Atau karna udah jadi kata serapan maknanya jadi baku apa yang kita pahamin dalam bhs Indo padahal sbtulnya jauh dari kenyataan.

Contoh dalam kalimat berikut

Maka dari itu, ini ada beberapa hal atau ungkapan yang maknanya sedikit agak salah kaprah ditengah-tengah kehidupan kita. Terkait ungkapan dalam berbahasa arab. Dan ini harus diluruskan.

Yang pertama Silaturohim.  Makna asalnya adalah kegiatan untuk menyambung tali kekeluargaan. Jadi sebetulnya ini hanya berlaku untuk yang masih ada hubungan darah. Misal keponakan dateng kerumah paman, dan contoh sejenis lainnya. Jadi ketika kita dateng kerumah entah kawan, guru, dsb yang gak ada sama sekali hubungan darahnya maka itu disebut ziaroh. Yup. Ziaroh bukan cuman ke kuburan aja. Karna ziaroh itu artinya berkunjung secara bahasa.

Selanjutnya Al Marhum atau Al Maghfur,, agak kurang tepat karna menggunakan ism maf’ul. Kalo pake lafazh al marhum maka artinya adalah yang dirahmati Allah ta’ala. Al Maghfur maka artinya jadi yang diampuni Allah Ta’ala. Nah ini perkara ghoib jadi cuman Allah aja yang tau dan berkehendak.

Alangkah lebih tepat pake rahimahullah, atau ghofarallahu lahu.Karna doa dalam bahasa arab menggunakan fi’il madhi atau kata kerja lampau.  Kalo kita terjemah Rohimahullah artinya itu smoga Allah merahmatinya. Jadi ada letak sebuah pengahrapan atau do’a. Beda sama yg pertama itu berupa kalimat pernyataan yang udah mengandung kepastian.

Contoh laen do’a, barokallah laka pada hapal kan –dengan ba panjang–?(dia harus pake laka, atau laki, atau lakum tergantung dhomirnya, jadi jangan barokallah saja) jadi artinya smoga Allah memberkahimu. Atau Jazakallah dengan jim atau ja yang panjang –semoga Allah membalasmu–, atau syafakallah dengan fa panjang  –semoga Allah mnyembuhkanmu. Atau zawwajakallah dengan tasydid di huruf waw  (smoga Allah menikahkanmu). Lha koq nyangkut kemari??. Dan banyak lagi yang laennya.

NB : ini harus tertib dhomir (kata ganti) ya, gak boleh gak. Misal Si A sakit, lalu Si B itu kasih tau Si C. Maka si C harus jawab syafahullah, jangan syakallah lagi. Karna kalo syafakallah nanti doanya buat si B, tapi syahullah doanya buat Si A. Hu artinya dia sedangkan ka artinya kamu.

Mabruk, ini juga kalimat satu agak kurang pas. Biasanya mabruk ini dipake sebagai ganti barokallah. Tapi dari segi arti ini agak salah. Karna si mabruk ini bisa diartikan ‘yang didudukan’ walaupun masih kurang tepat artinya. Karna penyebutan mabruk identik dengan onta.

Ahsannya pake mubarok, jangan mabruk. Entah mungkin agak ribet atau apa. Jadinya si mubarok ini berubah jadi mabruk.

Afwan Jiddan / afwan jayyid jiddan. Kata jiddan emang artinya sangat. Tapi kurang pas kalo diletakkan setelah afwan. Harusnya Jiddan ini pasangannya kata sifat, misal anta dzakiyyun jiddan (anda pintar sekali), ahsan itu ‘afwan ‘afwan jadi diulang sebagai bentuk taakid / penegasan.

Lanjut ya, setelahnya ada ungkapan “Sidang jumat rohimakumullah”,,  agak kurang pas karna doa smoga Allah merahmati kalian adalah untuk orang yang sudah meninggal, jadi bayangkan saja sendiri,, lebih pas hafizhokumullah -semoga Allah memelihara kalian-, coba baca lagi tulisan2 arab. Pasti ada tulisan misal Syaikh fulan hafizhkomullah kalo dia masih hidup, kebalikannya kalo yang udah meninggal pasti rohimahullah, misal Imam Asy Syafi’i rohimahullah

Fitnah, ini bukan nuduh tanpa bukti, arti sebenernya itu ujian. Di Al quran ada ayat innama amwalukum wa awladukum fitnah. Artinya sungguh harta dan anak-anakmu itu ujian. Jadi ayat wal fitnatu asyaddu minal qotli, gak berlaku disini. Yg pernah baca, fitnah di ayat itu artinya penyiksaan tawanan perang oleh orang2 kafir quraisy -kalo ga salah-. Kalo Fitnah yang bahasa Indo kita ubah ke bahasa arab maka penulisannya jadi seperti ini nih ‘iftiro’.

Sholawat juga, lebih baik ditulis lengkap sholallahu ‘alayh wasallam,, jadi jangan trlalu pelit, cuman nulis SAW,, begitu juga rodhiyallahu ‘anhu ahsan lengkap jangan cuman RA. Karna kalo kita baca kitab hadits itu ditulisnya lengkap Muhammad Sholallahu ‘alayh wasallam. Dan para Imam tersebut gak bosen buat ngulang-ngulang sholallahu ‘alayh wasallam walaupun mungkin jumlah hadisnya ribuan.

Segitu aja ya, rasa2nya cukup.
Cuman ini yang keingetan

Posted on 16 Januari 2013, in RELIGIOUS EXPERIENCE. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: