Tugas SBK – Cross Culture Understanding : Kebudayaan Bugis

BUDAYA BUGIS 9AAseng Ogi’, assalena pole ribasa To Ogi’, Bettuana To Ogi’. Lainna suku aslinna, to melayu sibawa Minangkabau jokka sompe pole Sumatera tanaga kantoro ma padangkang ri Kerajaang Gowa. Nai ppdai to ogi’ makokkoe suku ogi’ sappu toni ri Sultenggara, Sultengang, Papua, Kaltim, Kalsel, lettu ni mancanegara. Ogi’ salah si ‘ddina suku taa’e ki agama selleng.

(Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Di samping suku asli, orang-orang Melayu dan Minangkabau yang merantau dari Sumatera ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di kerajaan Gowa, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Kini suku Bugis menyebar pula di propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, bahkan hingga manca negara. Bugis merupakan salah satu suku yang taat dalam mengamalkan ajaran Islam.)

(The word “Bugis” comes from the word To Ugi, which means the Bugis. In addition to the indigenous, Malay and Minangkabau who migrated from Sumatra to Sulawesi since the 15th century as administrators and traders in the kingdom of Gowa, also categorized as the Bugis. Now Bugis also spread in Southeast Sulawesi, Central Sulawesi, Papua, East Kalimantan, South Kalimantan, even to foreign countries. Bugis is one abiding interest in the teachings of Islam.)

 

Pakakkasa Tou Suku Ogi’. (Perlengkapan Suku Bugis / Equipment of Bugis Bugis)

Pakakkasa tou naruntu ipau wassele tau mi’ bu. Rio loe, suku ogi’ ri Sulawesi issengi to pasompe makanja. Taue macca maneng illallangi masompe okko tasie, okko wanuwae ma’pakke loppi pinisi.

(Perlengkapan hidup ini dapat pula disebut sebagai hasil manusia dalam mencipta. Sejak  dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan menggunakan perahu Pinisi.)

(Equipment life can also be called as a result of human creation. Since the first, the Bugis of South Sulawesi is famous as an accomplished sailor. They are very good at the sea and the ocean to the various regions of the archipelago with  Pinisi The Boat.)

Beberapai conto pakakkasa ogi’ (Beberapa contoh peralatan bugis / Any example of equipment of Bugis):pinisi7

1. Loppi Pinisi (Perahu Pinisi / Pinisi The Boat)

Loppi Pinisi matammai laleng pakakkasa ipake illalenna to ogi’e to issengi wattuna riolo. (Perahu  Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang sudah  terkenal sejak berabad-abad yang lalu. / Boat Pinisi is the traditional transportation of  Bugis society that has known since centuries ago.)

2. Sepeda dan Bendi (Sepeda dan Bend/ Bicycles and Hansom)

Sepeda atu Bendi pakakkasa ipake sacara tradisionalli, adallah bukti’e sajarah to rio loe. (Sepeda ataupun Dokar, koleksi Perangkat pertanian Tadisional ini adalah bukti sejarah peradaban bahwa sejak jaman dahulu / Bike or Horse carts, agricultural equipment Tradisional collection is proof that the history of civilization since antiquity.

3. Koleksii pakakkasa bassi na hasalen (Koleksi Peralatan besi dan hasilnya / Collection Equipment iron and results)

Hassalena mappada mega modele’na pakakkasa pisou, oddingi dipake esso-esso maupung ipake pa’da wettu upacara ada. (Hasilnya berupa berbagai jenis senjata tajam, baik penggunaan sehari-hari maupun untuk perlengkapan upacara adat / The results are in the form of various types of weapons, both everyday use and for ceremonial paraphernalia.

url4. Bola Ada (Rumah Adat / Traditional House)

Bola ada ma’punnai ciri-ciri allena, modelenna biasana malampe lao monri, hai tambai lo samping kiri kanan bolae utama dan bahagian yoloe’. (Rumah bugis memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan dengan rumah panggung dari suku yang lain ( Sumatera dan Kalimantan ). Bentuknya biasanya memanjang ke belakang, dengan tanbahan disamping bangunan utama dan bagian depan, orang bugis menyebutnya lego – lego. / Bugis home is unique, as opposed to the stage from the other tribes (Sumatra and Borneo). The form usually extends to the rear, with tanbahan beside the main building and the front, the bugis people call lego – lego.)

Maggai ogie nappoji bola engka balkonna? Tou rio loe ogi’e, sebelummi matamma Agama Sellenge okko tana’ ogi’. To ogi’ ma’ppunai kepercayaang bahwa wannuai le tardiri pole 3(tellu) bahagiang: Botting langi, Alang tenga, dan paratiwi. Kira-kira lanaro dasarna sehingga to ogi’ nappoji punnai bola matandra. (Mengapa orang bugis suka dengan rumah yang memiliki kolong ? Konon, orang bugis, jauh sebelum islam masuk ke tanah bugis, orang bugis memiliki kepercayaan bahwa alam semesta ini terdiri atas 3 bagian, bagian atas , bagian tengah  dan bagian bawagh. Mungkin itulah yang mengilhami orang bugis lebih suka dengan arsitektur rumah yang tinggi. / Why do people bugis like of the house has a pit? That said, the Bugis, long before Islam entered into the land of bugis , the Bugis have a belief that the universe is composed of 3 parts, the upper part, the middle and the bawagh. Maybe that’s what inspired the bugis are more like the architecture of the house is high)

Bahagiang pole bola ogi’ (Bahagian dari Rumah Adat Bugis):

1. Rakkeang, ya senna langi-langi le (eternit). To ori yolow ipake untu mataro ase sillaonna i petti. (Rakkeang, adalah bagian diatas langit – langit ( eternit ). Dahulu biasanya digunakan untuk menyimpan padi yang baru di panen. / Rakayang, is part of the sky (plasterboard). Formerly usually used to store the newly harvested rice.)

2. Ale Bola, bahagiang tengngae bolla, kegakie monroe, pa’da ale bola, pa’da bahagiang tengngae yessengi posi bola. (Ale Bola, adalah bagian tengah rumah. dimana kita tinggal. Pada ale bola ini, ada titik sentral yang bernama pusat rumah. / Bola Alle, is the center of the house. where we live. At ale ball, there is a central point called the center of the house)

3. Awa bola, bahagiang yawa bola, anatara’ katambang bolae sibawa tana.

 

Aksara-Bugis1.2 Bahasa/Bicaranna.(Bahasa / Language)

Suku Ogi’e ma’punnai bahasa alente issengi sebagai bicarenna ogi’. Rio loe, to ogi’e, issetoi ma’punnai lontara yang ma’punnai Oki Brahma. Lapalla to ogi’e ma’ppunai kesusahan ri oloe pana  ri olo dalam bentu lontara. Hurufu lai pake adallah laksara lontara berasal pole sansekerta. (Etnik Bugis mempunyai bahasa tersendiri dikenali sebagai Bahasa Bugis. Konsonan di dalam Ugi pula di kenali sebagai Lontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta./ Ethnic Bugis language has its own recognizable as English Bugis . Consonants in the Ugi Lontara recognize as well as in the Brahmi script based. The Bugis people  spell Ugi and has since written literature for centuries in the form of papyrus. Script letters used are lontara, a system derived from the Sanskrit letters.)

1.3            Kesenian. (Kesenian / Art)

Joppanda atu Mangkassara tania bahwa sebua kota melaingkang ma’ppunai kebudayaan. Suku aslinna to Sulawesi adallah Mangkassara. Monro okko  wilaya kerajaang Gowa bahagiang Selatang Sulawesi.  Engka to, to ogi’e monro sebahagiang meggai pa’da bahagian utarae. Suku Ogi’e tersebu ma’ppunai mayoritas tou megai ri Sulawesi. (Makassar sesungguhnya bukan hanya nama sebuah kota, melainkan juga sebuah identitas kultural (kebudayaan). Suku Makassar adalah satu dari sekian banyak suku asli di Sulawesi, mendiami wilayah bekas Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan bagian selatan. Ada pula Suku Bugis yang wilayah kulturalnya menempati sebagian besar Sulawesi Selatan bagian utara. Bugis adalah suku dengan populasi terbesar di Sulawesi. / Makassar actually not only the name of a city, but also a cultural identity (culture). Makassar tribe is one of the many tribes in Sulawesi, inhabiting the territory of the former Kingdom of Gowa in southern South Sulawesi. There is also an area of ​​cultural Bugis occupies most of northern South Sulawesi. Bugis are the most populous tribe in Sulawesi.)

kecapi1–         Makkaacapi (Kecapi / Lute) :

Sala Si’dinna pakakkasa musi okko Sulawesi Selatang khususna to ogi’e mangkassae dan ogi mandar. Sejarah’e tau ni, irontui tou pattasi sahingga mappada bentukki loppi. (Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu / One of the traditional stringed instruments in particular the Bugis of South Sulawesi, Makassar and Bugis Bugis Mandar. The history of the lute discovered or created by a sailor, so that its shape resembles a boat.)

–         Gendang (Gendang / Drum):

Pakkasa musi perkusi mappunai dua bentu yaitu mabundarai  dan macampe. Engka to malondara mappada sulling. (Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana / Percussion music has two basic forms of the long round and round like a tambourine.)

2.1      Kepercayaang Sistim Ada. (Kepercayaan Sistem Adat / Indigenous Belief System)

To ri yolowe, tou Sulawesi Selatang mappunai aturang tentang hidup engka kaitanna sibawa sisitim pemerintahang na sistim kemasyrakatang. Maupung sistim kepercayaanna to ogi’e, seluruhnna yamannangi yasengi pangderang to mangkassae nasengngi pangadangka  to luuk nasengngi  alu tu dolo. To anandarae, ada. (Sejak dahulu, masyarakat Sulawesi Selatan telah memiliki aturan tata hidup. Aturan tata hidup tersebut berkenaan dengan, sistem pemerintahan, sistem kemasyarakatan dan sistem kepecayaan. Orang Bugis menyebut keseluruhan sistem tersebut Pangngadereng, orang Makassar Pangadakang, Orang Luwu menyebutnya Pangngadaran, Orang Toraja Aluk To Dolo dan Orang Mandar Ada’ / Since the first, the South Sulawesi has grammar rules of life. Rules of procedure relating to the life, governance systems, social systems, and systems kepecayaan. Bugis people call the entire system Pangngadereng, the Makassar Pangadakang, People call Pangngadaran Luwu, Toraja people Aluk To Dolo and The Mandar Ada ‘.)

Illala tou Sulawesi Selatang, mampunai kepercayaanna si’dii dewa yasengngi dewata sawae. Biasato, to ogi’e nassengi pattoe. To mangkasae, nasengngi turei a’ranna. To mandarae nasengngi puang masae. To toraja nasengngi puang matoa. Kepercayaanna to orioloe engka to dewa monro okko onro terteritue. Ma’padda mouro okko Gunung Latimajo, biasanna nasengngi ntoue dewata matanrue. Icari tangngi bahwa dewa tersebu bottingi sibawa enyi litimu kemudiang lahirmi pattotoe. Dewa pattoe bottingngi sibawa palingoka melahirkang ana yasengngi batara guru. Batara guru nasengngi oleh sebahagian orang pakapung Sulawesi sebagai dewa penjajah. (Mereka pula mempercayai adanya dewa yang bertahta di tempat-tempat tertentu. Seperti kepercayaan mereka tentang dewa yang berdiam di Gunung Latimojong. Dewa tersebut mereka sebut dengan nama Dewata Mattanrue. Dihikayatkan bahwa dewa tersebut kawin dengan Enyi’li’timo’ kemudian melahirkan PatotoE. Dewa PatotoE kemudian kawin dengan Palingo dan melahirkan Batara Guru. Batara Guru dipercaya oleh sebagian masyarakat Sulawesi Selatan sebagai dewa penjajah / They also believe in a god that reigned in certain places. Such beliefs about gods who dwell on Mount Latimojong. Deity they call the name of the Gods Mattanrue. Dihikayatkan that the gods mating with Enyi’li’timo ‘gave birth PatotoE. God PatotoE later married and gave birth Palingo Guru. Guru believed by most people of South Sulawesi as gods invaders )

Wattu itu, Agama Sellengematama Sulawesi Selatang ri olo ke17. Guru Agama Sellengeitarimai okko toue. Makkokoe sekitar 90% pendudunna Sulawesi Selatang manganut agama Sellenge, hanya 10% manganut agama Kriste. (Saat agama islam masuk ke Sulawesi Selatan pada awal ke-17, ajaran agama islam mudah diterima masyarakat. Sekarang sekitar Sekitar 90% dari penduduk Sulawesi Selatan adalah pemeluk agama Islam, sedangkan hanya 10% memeluk agama Kristen / When the religion of Islam into South Sulawesi in the early 17th, islam religion easily accepted by society. Now about 90% of the population of South Sulawesi is the religion of Islam, while only 10% converted to Christianity)

Posted on 31 Januari 2013, in Serbaneka, SMP AL AZHAR PALU. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: